Artikel

  Kamis, 6 Juni 2021

Cedera Kepala

Cedera kepala hingga saat ini masih menjadi tantangan besar dalam dunia kedokteran, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara maju. Pentingnya memerangi cedera kepala tidak hanya dilakukan pada tingkat penanganan medis ( kuratif dan rehabilitatif ), namun juga pada tingkat pencegahan dan promosi kesehatan (preventif dan promotif). Hal ini disebabkan karena dampak jangka panjang akibat cedera kepala tidak hanya mempengaruhi kondisi kesehatan dan mental pasien, namun juga kondisi sosio-ekonomi pasien, keluarganya, dan masyarakat sekitar yang pada akhirnya akan menjadi beban sosio-ekonomi bagi rumah sakit dan pemerintah.

Angka kematian akibat cedera kepala di Indonesia pada tahun 2005 berkisar 6,211 hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan standar rata  rata internasional yang berkisar 38%. Sebagian besar penyebab cedera kepala di Indonesia adalah kecelakaan kendaraan bermotor, dimana proporsi terbesar terletak pada pengendara sepeda motor. Kelompok usia dewasa muda (umur 18 – 40 tahun) merupakan yang paling rentan mengalami cedera kepala. Hal ini disebabkan tingginya frekuensi pengguna kendaraan bermotor pada kelompok usia ini.

Tingginya angka kematian akibat cedera kepala tidak hanya ditentukan oleh tingkat keparahannya, tetapi juga ketepatan dan kecepatan penanganannya. Penanganan cedera kepala secara cepat dan tepat dapat menurunkan angka kematian dan kecacatan.

Beberapa kasus cedera kepala memerlukan tindakan operasi, bahkan untuk kondisi tertentu tindakan operasi akan menjadi penentu yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup penderita. Beberapa contoh kasus penyakit yang mungkin membutuhkan tindakan operasi adalah patah tulang (fraktur) kompresi tengkorak, perdarahan epidural, perdarahan subdural, perdarahan jaringan otak, perdarahan pada sistem cairan otak, dan pembengkakan otak.

Fraktur Kompresi Tengkorak

Di kelompok kasus cedera kepala ringan  sedang, fraktur kompresi tengkorak termasuk kegawatdaruratan di bidang bedah saraf. Fraktur kompresi tengkorak terjadi pada 6% dari seluruh kasus cedera kepala. Fraktur kompresi tengkorak yang berat terjadi pada 90% kasus fraktur kompresi tengkorak, dengan risiko infeksi otak mencapai 20% tergantung lokasi terjadinya luka, kebersihan luka, dan derajat besarnya luka kulit dan tengkorak kepala. Pada kondisi yang sangat kotor, risiko terjadinya infeksi otak bisa meningkat lagi hingga sebesar 2 -3 x lipat dari angka tersebut. Tingginya risiko infeksi otak disebabkan karena patah tulang tengkorak yang berat biasanya akan menyebabkan benda asing seperti kotoran dari luar ataupun benda tubuh seperti rambut masuk kedalam otak ataupun selaput otak. Di negara maju dengan peralatan kedokteran yang canggih dan mutakhir seperti Amerika dan Eropa, angka kematian fraktur kompresi tengkorak tetap relatif tinggi mencapai 19%, biasanya diakibatkan oleh patahan tulang yang merusak pembuluh darah besar atau infeksi otak yang berat. Angka kecacatan saraf dan kelumpuhan sebesar 11% dan kejadian timbulnya kejang paska cedera adalah sebesar 15%.

Pada prinsipnya tujuan utama operasi fraktur kompresi tengkorak adalah :

  1. Mencegah terjadinya atau mengurangi risiko berat infeksi otak dan risiko kondisi di mana kuman menyerang seluruh sistem tubuh (sepsis)
  2. Mencegah dan mengurangi kemungkinan terjadinya kecacatan saraf, kelumpuhan, dan kejang paska cedera kepala
  3. Memperbaiki kosmetika wajah dan kepala ( terutama tengkorak yg merupakan bagian dari wajah )
  4. Bila fraktur kompresi disertai perdarahan otak ataupun selaput otak, tindakan operasi juga bertujuan untuk menyelamatkan hidup pasien akibat perdarahan tersebut

Berikut gambar dibawah ini merupakan ilustrasi fraktur kompresi tengkorak yang menimbulkan penekanan pada otak yang berpotensi menyebabkan cacat saraf, kelumpuhan, dan kejang. Pada ilustrasi ini perlu diperhatikan juga bahwa pada luka terbuka ini kotoran dari luar, termasuk rambut dapat masuk ke dalam luka dan bahkan bukan tidak mungkin dapat masuk kedalam otak.

 

Perdarahan Epidural

Perdarahan epidural adalah perdarahan yang terjadi diantara bagian dalam batok kepala dengan selaput otak. Perdarahan epidural biasanya terjadi pada satu tempat tertentu di otak dan merupakan cedera kepala fokal yang paling sering ditemukan pada kelompok usia dewasa muda, dengan angka kejadian per tahun sebesar 2,7% dari seluruh kasus cedera kepala.

Perdarahan epidural termasuk kasus kegawat-daruratan di bidang bedah saraf yang bila dibiarkan akan menyebabkan pergeseran otak yang akan mengakibatkan kematian. Angka kematian akibat perdarahan epidural sebesar 712,5%. Bila dilakukan segera dan tepat waktu, operasi kraniotomi pada perdarahan epidural termasuk salah satu operasi dalam bidang kedokteran yang paling efektif dalam menyelamatkan nyawa pasien dengan tingkat kesembuhan yang dramatis. Berikut gambar dibawah ini merupakan ilustrasi perdarahan epidural yang sudah menggeser otak sisi kanan sehingga menekan batang otak yang merupakan pusat nafas dan jantung dalam tubuh manusia. Pada kondisi ini keterlambatan dalam pelaksanaan operasi akan mengakibatkan kecacatan dan kematian pada penderita.

gbr2
Perdarahan subdural adalah perdarahan yang terjadi diantara selaput otak lapisan luar dan selaput otak lapisan tengah. ( Untuk diketahui oleh pembaca bahwa selaput otak terbagi menjadi 3 lapisan, yaitu lapisan luar yang dinamakan duramater, lapisan tengah yang dinamakan arachnoid, dan lapisan dalam yang dinamakan piamater ).  Perdarahan subdural secara sederhana dapat terbagi menjadi dua, yaitu perdarahan yang sifatnya akut ( langsung menimbulkan kegawatan yang berpotensi pada kematian) dan perdarahan yang khronis (tidak menimbulkan kegawatan yang berisiko kematian, namun biasanya menyebabkan nyeri kepala hebat atau kelumpuhan anggota gerak).

Perdarahan Subdural

Perdarahan subdural akut biasanya terjadi akibat mekanisme cedera yang hebat, seperti berguling guling atau terjungkir dengan kencang saat terjatuh, selain bisa juga disebabkan karena benturan hebat pada satu sisi kepala. Akibat mekanisme terjadinya cedera yang hebat itulah, makanya perdarahan subdural memiliki angka harapan hidup yang lebih kecil dibandingkan jenis perdarahan lainnya di otak. Angka kematian akibat perdarahan subdural akut adalah sebesar 50 – 90 % yang ditentukan berdasarkan tingkat keparahan cedera kepala, umur penderita, dan kecepatan respon operasi. Perdarahan subdural akut bila memenuhi syarat untuk operasi harus segera dilakukan pembedahan, karena hasil penelitian di Amerika menunjukan bahwa bila ditangani kurang dari 4 jam setelah kejadian angka kematiannya sebesar 30 %, bandingkan dengan angka kematian bila ditangani lebih dari 4 jam setelah kejadian yang mencapai 90 %.

Perdarahan subdural khronis ataupun yang bersifat subakut biasanya terjadi pada orang lanjut usia, bisa disebabkan karena cedera kepala ringan seperti terpeleset ataupun terjadi secara spontan karena penggunaan obat – obat jantung dan pengencer darah. Tindakan operasi pada pasien subdural khronis biasanya dilakukan 14 hari setelah kejadian. Tindakan operasi biasanya berhasil dengan baik dengan angka kesembuhan yang tinggi.
Berikut dibawah ini merupakan ilustrasi perdarahan subdural akut yang menyebabkan pergeseran otak yang berpotensi pada kematian. Tindakan pembedahan darurat yang dilaksanakan sebelum 4 jam setelah kejadian biasanya akan menyelamatkan pasien.

 

Perdarahan Jaringan Otak

Perdarahan jaringan otak seusai namanya adalah perdarahan yang terjadi di dalam jaringan otak. Bila perdarahannya kecil maka disebut memar otak ( kontusio otak ). Angka kejadian perdarahan ini adalah sebesar 10 %. Perdarahan yang kecil biasanya tidak memerlukan tindakan operasi dan perdarahannya bisa diserap secara otomatis dalam jangka waktu 7 – 14 hari oleh tubuh. Namun pengalaman dunia kedokteran menunjukan bahwa perdarahan kecil ini memiliki potensi untuk berkembang menjadi besar dalam jangka waktu 3 – 5 hari walaupun sudah diberikan pengobatan yang cukup. Angka kematian akibat pembesaran perdarahan ini meningkat drastis bila dibandingkan dengan perdarahan kecil, yaitu sebesar 50 – 75 %.